Bagaimana cara berhenti melampiaskan kekesalan saat Anda marah atau terluka

 Artikel asli dalam bahasa Inggris, di post oleh CNN pada tanggal 12 Juli 2022



Bagaimana cara berhenti melampiaskan kekesalan saat Anda marah atau terluka

    Bahkan saat kita menanti-nantikan untuk menikmati musim panas, krisis mental kaum muda, penembakan massal dan polarisasi politik banyak menjerumuskan banyak orang pada tekanan dan keputus-asaan.

    Survey menunjukkan kecemasan dan depresi masih naik secara signifikan daripada sebelum pandemik terjadi, dan keduanya terhubung pada kemarahan.

    Sebagai seorang psikolog, saya mendengar dari klien saya bahwa mereka mengecam orang-orang terdekat mereka karena banyak pikiran. Perasaan takut, tersinggung, dan sedih bukan perasaan yang menyenangkan. Melampiaskannya secara verbal dan tindakan mungkin bisa membuat Anda lega untuk sementara, namun yang pasti hal tersebut akan merusak hubungan Anda dengan orang-orang terdekat dan akan membuat Anda menyesal nantinya.

    Memang sulit untuk bisa menahan diri untuk tidak melampiaskan sakit yang kita rasakan, namun kita bisa mengubah cara kita menanggapi emosi kita.


1. Mulai dari rasa welas asih

Orang baik akan merasa buruk jika menyakiti orang yang terkasih ketika mereka meluapkan emosinya, yang akan membuat kita merasa malu. Rasa malu itu berubah menjadi perasaan ingin menghindari kenyataan. Jadi sebagai permulaan, Anda harus menerima kenyataan bahwa manusia itu tidak sempurna. Hal tersebut akan membantu Anda untuk mengatasai penyangkalan dari diri Anda.

Daftar beberapa konsekuensi dari kemarahan Anda terhadap orang-orang yang ada di kehidupan Anda. Jika Anda tidak yakin jawabannya, silakan bertanya kepada orang yang bersangkutan. Lalu tanyakan pada diri Anda sendiri. Bagaimana perasaan Anda setelah hilang kendali? Apakah Anda puas setelah melampiaskan kemarahan Anda? Apakah Anda ingin dikenal sebagai pemarah oleh orang-orang terdekat Anda?

Jawaban-jawaban pertanyaan tersebut akan menyadarkan Anda tentang kerugian-kerugian terhadap diri Anda dan kepada yang lain. Hal ini penting sekali sebagai permulaan untuk merubah perilaku Anda.


2. Cari tau tentang pemantiknya dan cara menghadapi emosi yang tersembunyi

Lihatlah ke dalam diri Anda, lalu daftar situasi dimana membuat Anda begitu emosi. Apakah Anda muda tersinggung saat selesai kerja -- saat pulang ke rumah, lapar, dan kelelahan? Apakah rasa luka di hati Anda karena adanya penolakan? Atau mungkin cara pasangan Anda dalam mengasuh anak sedikit memanajakannya sehingga membuat Anda khawatir terhadap anak Anda sehingga Anda ingin mengkritiknya.

Penting bagi Anda untuk mengenali apa penyebab emosi Anda meluap-lupa sehingga Anda bisa menghindari atau mencari cara untuk menghadapinya lebih bijaksana. Contohnya, jangan berdiskusi masalah topik yang berat di dalam rumah jika Anda merasa tertekan jika di rumah. Jadi Anda bisa mengatasinya dengan cara membahasa topik yang berat dengan pasangan Anda di luar, saat sedang berjalan-jalan dll. Atau mintalah teman sekamar Anda untuk tidak mengganggu Anda saat Anda merasa suntuk, takutnya Anda akan mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Banyak klien saya yang kaget bahwa amarah hanyalah pelampisan yang menutupi emosi primer. Cobalah untuk mencari tahu apakah itu kecemasan, depresi, penyesalan, rasa luka, atau kekecewaan yang bersembunyi di balik kemarahan Anda. Jika benar demikian, maka fokuslah pada cara menghadapi emosi primer tersebut.



Komentar